Rabu, 13 April 2011

story again

MENCINTAI  ATAU  DI CINTAI ???

Pagi menjelang..
Ku terbangun dari tidur lelapku, membuka jendela seraya tersenyum pada mentari serta mngucapakn harapkan ku pagi ini. Harapan yang selalu sama tiap harinya.
            “Aku harap, hari ini aku dapat tersenyum bahgia dan bertemu dengannya”. Itulah harapan yang menyemangatiku menjalani hidup. Harapan itu senang tiasa kuucapkan tiap hari karena beberapa tahun belakangan ini seakan aku tak pernah bahagia kecuali jika bersamanya. Hal ini berawal dari pertengkaran ayah dan bunda.
            “Akhh.. ini semua gara-gara kamu”
            “maksud kamu apa?? Kamu yang tidak becus mengurus semuanya”. Suara itu terdengar samar-samar dari kamarku karena penasaran aku pun mencari sumber suara tersebut ternyata suara itu berasal dari kamar orang tuaku. Aku pun mendekati pintu kamar tersebut dan perlahan membukanya, suara itupun semakin jelas.
            “Aku sudah tidak betah hidup dengan mu, ceraikan aku!!”
            “ maksud kamu apa?? Tanpa kamu perintah pun aku sudah berniat menceraikanmu”
            “Tidakkk….!! Bunda, ayah valen mohon kalian tidak boleh bercerai, demi valen”. Kataku sambil mengusap airmataku. Bunda berusaha memberiku pengertian bahwa mereka tidak bisa lagi bersama. Namun, aku tetap tidak peduli dengan penjelasan mereka. Meskipun aku sudah berusaha mereka tetap pada pendrian mereka. Akhirnya pengadilan pun memeutuskan bahwa mereka resmi bercerai. Hal tersebut membuatku sangat sedih dan memutuskan untuk mengakhiri hidupku karena aku merasa tidak ada lagi yang peduli padaku.
            Di atas gedung tua, ku pejamkan mata, merentangkan tangan kurasakan angin berhembus di seluruh tubuhku dan ku langkahkan  kakiku sedikit demi sedikit dan tiba –tiba tubuhku terasa tersandar dan sesaat terasa hangat. Saat membuka mata ternyata aku telah berada dipelukan seseorang.
            “gila kamu !! kamu tak boleh melakukan hal bodoh ini” ungkapnya sambil mengusap kepalaku. Kulepas tubuhku dari pelukannya dan kupandangi sosok yang telah mencegahku melakukan hal terbodoh dalam hidupku dan sosok itu tak asing lagi bagiku, Alvin sahabat kecilku.
            “Alvin kenapa kamu mencegah ku.” Tanyaku sambil mengusap air mata ku.
            “Apa ? seharusnya aku yang bertanya, mengapa kamu ingin melakukan hal bodoh ini ?, mana Valen yang dulu, Valen yang tegar”
            “Kamu tak tahu apa yang kurasakan, sekarang tak ada Lagi yang peduli padaku.” Teriakku. “Dengar aku Val, Aku peduli ma kamu. Aku tak mau melihat kamu seperti ini. Kamu harus buktikan kepada semua orang kamu bisa tegar dari masalah apapun.” Aku hanya bisa menangis dipelukan Alvin dan sejak hari itu aku berjanji sama diriku sendiri, aku pasti bisa melewati semuanya.
            Aku bersyukur walau bunda dan ayah berpisah aku masih punya Alvin yang selalu memberiku semangant hidup. Sejak itu pula aku menaruh hati padanya.

                                                                        ***

            Mentari semakin tinggi, aku bergegas ke kampus karena pagi ini aku ada kuis dengan dosen killer, oleh karena itu aku tak boleh telat.
Akh.. lega habis kuis, tapi ada yang mengganjal di pikiran ku, hari ini ku tak melihat kehidupanku. “Alvin mana yah?!?” kataku dalam hati. Alvin selalu sibuk  Sejak dia aktif di salah satu organisasi kampus, jadi aku tidak pernah lagi ketemu dengannya.
            “ aku coba telfon dehh!”
Tut…tut…tut…
Telfon ku yang berulang sama sekali tidak di angkat. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirim sms saja.
            Vin, kok tlfon ku g’ d agkat ? skrg kmu d mna?, kLo ada wk2 tmnin ku donk! k toko buku y,,, (sending message).
Tidak lama kemudian aku menerima balasan dari Alvin,
            maf y, ku g bsa tmnin kmu hri nii bis ku sbug. Laen klii jaa y,,
aku tak mampu lagi membalas smsnya, hatiku gundah karena akhir – akhir ini Alvin  menjauh. Hal tersebut membuatku tambah sedih karena selama bertahun-tahun aku tak bisa mengungkapkan persaan ku padanya, hal itu karena aku tidak tahu perasaan Alvin padaku. Dia terkadang perhatian padaku tetapi terkadang dia cuek bahkan kadang dia seperti tidak mengenalku. Hal tersebut membuat ku tak mampu menebak apa isi hati Alvin.

“wahhh…. Huuuuu…. Keren …!!!”
Tiba –tiba suara itu terdengar, ku mencoba mendekati suara tersebut dan ternyata suara itu merupakan suara gadis –gadis kampus yang terkesima akan kedatangan Pangeran kampus. Pangeran itu bernama Radit. Radit tak asing lagi bagiku, aku telah mengenalnya sejak SMA. Saat SMA Radit tak seperti itu bahkan dia seorang cowo yang pendiam di sekolah dulu, tatapi entah mengapa sejak masuk kuliah dia berubah total.
           
            Aku tidak seperti gadis lain yang sangat mengidolakan Radit bahkan aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Bagiku pangeran kampus adalah Alvin.

Saat duduk di taman seseorang menghampiri ku.
            “Hai.. kamu Valen kan ??” Tanyanya pada ku
            “kamu juga teman nya Radit kan ?”
Aku hanya mengganguk untuk mengiyakan pertanyaannya.
            “Mmh.. aku aby, oyah.. kamu ko’ nggak seperti gadis yang laen yang histeris jika melihat radit datang.”
            “hahaaha… aku sama sekali tidak tertarik dengan Radit, lagian aku sudah kenal lama dengan dia dan menurutku dia  berubah.”
            ‘Sama sekali tidak tertarik ??.” Katanya heran.
Aku tersenyum mendengarnya.
            “Kalau bergitu buka blog ini yah, dan kuharap pandangan kamu ke radit berubah” Katanya sambil memberiku secarik kertas yang berisi alamat blog.
“Tapi,,.” Teriaku, namun Aby tidak mengharaukanku dan pergi begitu saja. Karena penasaran , ku meraih Laptopku dalam tas dan mencoba membuka alamat tadi. Betapa kagetnya aku ternyata blog itu adalah blog pribadi radit yang berisi curahan hatinya dan blog itu telah di buatnya sejak SMA. Isinya tentang seorang gadis yang menjadi pujaan hati Radit selama ini. Bertambah kagetnya aku setelah membaca kelanjutan ceritanya ternyata gadis itu adalah aku. Jadi, selama ini Radit menyimpan perasaan padaku.
            Belum lagi semua hadiah serta kejutan yang pernah ku terima yang ku kira dari Alvin ternyata semuanya dari Radit bahkan Radit yang memberi tahu kepada Alvin tentang peristiwa beberapa tahun yang lalu saat aku hampir bunuh diri. Dalam blog itu tertulis jelas semua tentang diriku, mulai dari hal-hal yang tak kusukai hingga hal-hal  kesukaanku bahkan tempat yang sering ku kunjungi setiap aku sedih.
            Tidak hanya itu, ternyata perubahan Radit saat ini hanya untuk menarik perhatianku. Tuhan, mengapa hal ini terjadi padaku. Semua perhatian yang ku kira dari Alvin ternyata dari Radit. Apa aku salah mencintai seseorang. Saat tak kuasa menahan perasaan sakit ini, aku berlari menghampiri Radit.
            Dengan nafas yang tidak teratur aku mencoba memanggil namanya “Radit . . .” aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Apakah ucapan terimakasih, maaf atau aku harus marah. Semuanya tercampur dalam benakku. Tak mampu mengucapkan sepatah katapun, aku berlari menjauh darinya. “Valen ..” Teriakan Radit yang sama sekali tak kuhiraukan.

            Ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidurku, menutup mata, merenung dan memikirkan semua yang telah terjadi hari ini. Hari terburuk ke dua dalam hidup ku.

                                                                        ***

Esok pun tiba..
Ku kunjungi tempat kesayangan ku di saat aku sedih. Saat ini aku tidak tahu apa yang ku rasakan. Tiba-tiba di tengah lamunan ku Radit menghampiriku. Tidak heran dia ada di tempat ini karena dia tahu semua tentang diriku. Saat melihatnya pun aku berusaha untuk pergi.
            “Val, tunggu dengarkan penjelasanku. Please…”
Aku pun kembali duduk dan terdiam saat dia menjelaskan semuanya padaku.
            “Aby sudah memberi tahu semuanya, ternyata tanpa sepengetahuanku dia memberimu alamat blog pribadiku. Dan itu artinya kamu sudah tahu semuanya. Aku sayang kamu Val, sejak lama aku ingin mengungkapkannya padamu, tapi aku tidak berani dan kupikir sekaranglah waktunya. Aku tidak minta jawabanmu sekarang, tapi cukup dengan sebuah perjanjian. Pejanjiannya adalah kamu punya waktu 1 bulan untuk berfikir dan selama itu kamu tidak akan   melihatku dan jika sebulan telah berakhir aku akan menemuimu dan saat itu juga aku akan bertanya satu hal, apakah kamu merasa kehilanganku? Dan pada saat kuharap kamu berkata jujur. Val, jika kau diam seperti ini ku anggap kamu setuju dengan perjanjian ini.” Kata Radit panjang lebar.
            Aku tak mampu berkata apapun, bahkan untuk menolak perjanjian itupun tak bisa.
“oia, perjanjian ini di mulai hari ini, tapi jangan khawatir setiap kamu butuhin aku, aku akan selalu ada untukmu. Aku janji.” Lanjut Radit. Itulah kata terakhir yang kudengar darinya sebelum dia pergi.

Awalnya ku kira Radit bercanda, tetapi ternyata dia serius. Radit menghilang bagai di telan bumi. Semua seisi kampus membicarakannya bahkan tabloid kampus di salah satu rubriknya tentang gossip kampus memberitakan tentang hilangnya Radit “Sang Pangeran Kampus Menghilang Tanpa Jejak.” Hal itu yang membuat ku semakin yakin jika perjanjian yang dibuat sedang berjalan.
Entah mengapa, aku mulai merasa khawatir dan aku tak henti-hentinya memikirkannya. Tidak hanya itu, aku pun semakin sering membuka blog Radit dengan harapan radit menambah catatanya di blog itu. Namun yang ku temui hanya catatan terakhirnya tentang perjanjian itu.

“hi! Val,,” Sapa Alvin
“aLvin kamu buat aku kaget”
“Upss,. Maaf. Oia, maaf lagi karena kahir-akhir ini aku jarang nemuin kamu soalnya aku sibuk banget.”
“Ohh.. gak papa ko’.” Jawab ku Lesu 
“ya udah, sebagai gantinya aku traktir kamu. Gimana ?” ajak Alvin.
Tanpa pikir panjang aku mengiyakan ajakan Alvin dan entah mengapa di benakku berharap dengan pergi dengan Alvin bisa membuatku sejenak melupakan masalah tentang Radit. “Lagian yang aku sayang Alvin bukan Radit.” Ucapku dalam hati.  Seharian bareng Alvin membuatku sedikit melupakan Radit.
            Kini Alvin lebih pengertian padaku dan hal itu membuatku bahagia, tapi aku masih tidak tahu apa arti perhatiannya padaku.

                                                                        ***

Tiga minggu telah berlalu..
Aku semakin di hantui banyangan Radit bahkan pertanyaan Radit sering kali ku lontarkan pada diriku. “Apakah aku kehilangan Radit.”
Tiba-tiba..
Brrr…ng. . .  brukk …
Kepalaku sakit, pandanganku mulai tak jelas tapi samar-samar aku melihat seseorang yang ku kenal. Seseorang yang seakan kurindukan, tapi semuanya menjadi gelap kembali.
            Saat tersadar, aku telah berada di Rumah Sakit. Aku tidak ingat apa-apa tentang kejadian tadi, tapi satu hal yang kuingat aku melihat seseorang dan aku yakin dia adalah Radit.
            “Kamu sudah sadar, syukurlah.” Kata Alvin.
            “Alvin dari mana kamu tahu aku disini?” Tanyaku.
            “mmh.. seseorang tadi menelfonku.” Jawab Alvin
            “Siapa??”
            “Udah, kamu nggak usah mikirin itu. Aku punya kabar baik kata dokter kamu nggak apa-apa , jadi ntar sore kamu dah boleh pulang.” Alvin tidak menjawab pertanyaan ku. Tapi di benakku orang yang menolongku tadi adalah Radit.
            Sore harinya pun Alvin mengantarku pulang. Karena masih khawatir Alvin terpaksa menginap di rumahku.
            Aku terduduk diam di pinggir kolam, merenungi sesuatu yang tidak pasti, terdiam dengan pikiran kosong. Dilema akan dua pilihan antara dicintai Radit atau mencintai Alvin.
            “Heii.. kamu kenapa?” Tanya Alvin.
            “Entahlah, aku sendiri bingung aku kenapa.” Jawabku tak pasti. Sesaat kami berdua terdiam. “sudah malam, kamu harus jaga kesehatan, tidur yuck!” ajak Alvin.
Aku hanya terdiam mendengarnya. Tetapi Alvin tiba-tiba menggendongku, aku tersentak kaget. Dia pun menggendongku ke kamar, dia menurunkanku d tempat tidur dan menarik selimut menutupi tubuhku dan dia pun mencium keningku dan mengucapkan “Met bobo..”  saat dia ingin pergi aku menarik tangannya dan menatapnya seraya berkata dalam hati “Please,, jangan tinggalkan aku.” Sejenak Alvin terdiam.
            “baiklah aku tidak akan meninggalkanmu” kata Alvin yang seakan dia bisa mendengar kata hatiku. Aku pun tersenyum mendengarnya. Kemudian Alvin memegang erat tanganku dan berkata “Tidurlah aku tak akan meninggalkanmu, percayalah!.” Kata-kata itu mengantar tidurku.

            Rembulan telah digantikan oleh sang surya. Alvin membuka jendela dan menyuruhku bangun. Pagi ini aku tak bisa mengucapkan harapanku pada sang surya karena harapan itu telah terkabulkan hari ini, Alvin ada di dekatku saat ini.
            “Val, aku udah buatin kamu sarapan tapi maaf yah aku nggak bisa temanin kamu karena pagi ini aku ada kuliah. Tapi ingat sarapannya harus habis yah..”katanya sambil mengusap rambutku.
            “vin, thanks yah..” teriakku sebelum dia keluar dari pintu kamar dan Alvin hanya membalasnya dengan senyuman.

                                                                        ***

Hari ini perjanjian itu berakhir. Saat ini aku semakin takut dan berfikir apakah Radit benar-benar akan datang. Aku juga bingung apa yang akan ku jawab dari pertanyaan Radit nanti, tapi apapun itu ku harap yang terbaik bagiku.
Aku tidak tahu akan bertemu Radit di mana, tapi satu hal yang ku tahu Radit pasti tahu keberadaanku. Aku pun pergi ke tempat perjanjian itu di mulai. Saat terduduk diam, aku mendengar suara langkah kaki dan langkah itu terhenti tepat di belakangku. Aku menoleh dan melihat Radit tepat di hadapanku, seakan aku ingin memeluknya dan berkata . . .
“Perjanjian telah berakhir.” Kata radit memecah lamunanku.
“Seperti yang ku katakan sebulan yamg lalu hanya satu  hal yang ingin kutanyakan. Sebulan tak melihatku apakah kamu merasa kehilanganku?.” Pertanyaan itulah yang selama sebulan ini aku mencari jawabanya.
“Dit, sebenarnya aku tidak tahu apa aku merasa kehilanganmu” jawabku.
Tiba-tiba wajah radit berubah. Wajahnya kini diselimuti rasa kecewa yang mendalam. Selama bertahun-tahun dia menyimpan perasaannya padaku dan disaat dia menunggu jawabanku yang dia dapat hanya jawaban yang tidak pasti dariku. Aku tahu apa yang dirasakan Radit sekarang karena aku juga mengalaminya, mencintai Alvin bertahun-tahun tanpa tahu apakah Alvin akan membalasnya dan itu sangat menyakitkan.

Saat Radit membalikkan badanya dan ingin pergi.
            “Tapi, selama sebulan ini aku tak henti-hentinya memikirkan mu dan kadang aku juga sering membuka blog kamu dengan harapan kamu menulis di blog itu tentang keberadaanmu, tapi semuanya nihil Dit. Dan di saat kecelakaan itu terjadi aku yakin kamu yang telah menyelamatkanku, dan saat itu aku berharap saat membuka mata kamu ada di hadapanku, tapi semuanya sia-sia, semuanya hanya tinggal harapan ku semata. Tidak hanya itu, saat aku membaca ulang isi blog mu, hatiku sakit Dit, melihat semua catatan kamu selama ini. Aku nyesel kenapa selama ini aku tidak tahu hal tersebut. Dan saat ini aku bertanya pada diriku sendiri apakah ini dapat dikatakan aku merasa kehilanganmu?”

Mendengar penjelasanku, Radit berbalik dan memelukku erat seakan tak ingin melepasku.
            “aku sangat mencintaimu Val dan aku tidak mau kehilanganmu, aku tahu di hatimu hanya ada Alvin tapi aku tidak peduli, apalagi setelah mendengar penjelasanmu tadi aku yakin suatu saat nanti aku bisa memeilikimu sepenuhnya.” Kata Radit yang semakin erat memelukku. Mendengar perkataan Radit aku sangat kaget karena ternyata Radit tahu tentang perasaanku kepada Alvin dan dia sama sekali tidak marah padaku. Hal itu membuatku semakin yakin memilih Radit dan semoga ini yang terbaik bagiku dan Radit.
            Yah,, inilah pilihanku. Aku memilih dicintai Radit daripada mencintai Alvin karena bagiku mencintai hanya akan membuatku sakit dan mencintai juga hanya berisi harapan-harapan kosong yang tak pernah pasti.

                                                                        _The end­_

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda